Selasa, 28 Desember 2010

Studi Kasus E-F

Urbanisasi Tak Terkendali Menimbulkan Krisis Kemanusiaan

PERINGATAN Hari Kesehatan Sedunia tahun 2010 mengangkat tema soal urbanisasi dan kesehatan. Urbanisasi menyebabkan pertumbuhan penduduk di perkotaan, hal ini dapat menimbulkan permasalahan global. Di abad 21 ini, lebih dari setengah penduduk dunia tinggal di kota dan lebih dari sepertiganya tinggal di daerah kumuh. Sehingga tidak mustahil jika nantinya, kemiskinian semakin meningkat dan jumlah orang miskin di kota lebih banyak daripada di desa.


Masalah yang dihadapi terkait laju urbanisasi dan pertumbuhan penduduk antara lain kepadatan lalu lintas, pencemaran udara, perumahan yang kurang sehat, pelayanan kesehatan yang kurang layak, serta tingginya kriminalitas, kekerasan dan penggunaan obat-obatan terlarang.


Menurut Ketua Asosiasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja Indonesia (Akeswari) DR Dr Dwidjo Saputro. SpKJ(K) kondisi perkotaan yang semakin padat penduduknya akan menimbulkan masalah kesehatan jiwa. "Persaingan hidup semakin berat, karena lapangan pekerjaan tidak bisa menyerap tenaga kerja lagi, maka kemiskinan semakin bertambah akibatnya semakin banyak penduduk yang stress. Lingkungan yang kurang kondusif juga sangat mempengaruhi kesehatan Jiwa anak dan remaja." kata Dwidjo dalam forum diskusi bersama PWI Jaya di Jakarta. Kamis .


Dwidjo mengatakan berbagai kasus bunuh diri yang dilakukan remaja, perkelahian antar remaja, dan masalah sosial lainnya yang terekspos adalah suatu fenomena gunung es. Artinya, selain masih banyak masalah yang tidak muncul ke permukaan, juga mempunyai akar masalah yang mendalam dan komplek terkait dengan kesehatan jiwa.


Urbanisasi yang tidak terkendali dapat mengakibatkan krisis kemanusiaan. Penduduk yang semakin miskin akan semakin menderita. Bank Dunia pun memperkirakan tahun 2035 nanti kota-kota akan didominasi permukinan orang-orang miskin. "Anak-anak dan remaja di perkotaan juga akan mempunyai beban psikologis yang semakin besar." ujarnya.


Masalah sosial bisa terjadi karena ada masalah kesehatan jiwa yang dialami masyarakat. Namun sebaliknya, masalah kesehatan jiwa muncul akibat ada masalah sosial. "Kedua hal itu saling mempengaruhi." katanya. Tetapi, dia sangat menyayangkan perhatian pemerintah belum serius terhadap penanganan masalah kesatuan Jiwa terutama kesehatan Jiwa anak dan remaja. Hingga saat Ini belum ada kebijakan dan perencanaan yangjelas. padahal satu dari lima anak dan remaja memiliki masalah kesehatan jiwa.


Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Dr Ida Bagus Nyoman Banjar mengatakan Jakarta sebagai sasaran urbanisasi memiliki beban semakin besar. "Untuk mengatasi penyakit infeksi saja belum tuntas, muncul lagi kasus-kasus penyakit degeneratif karena gaya hidup perkotaan, lalu sekarang masalah kesehatan jiwa akibat padatnya penduduk kota." ujarnya.


Kepala Divisi Psikiater Anak RSCM DR Ika WldyawaU. SpKJ. mengatakan. Posyandu-pos-v,iii Im sangat menolong untuk menemukan anak-anak yang mengalami gangguan kejiwaan. "Gangguan kejiwaan ada yang muncul sejak kecil, misalnya anak yang sulit makan bisa saja dia mengalami depresi," katanya.


Sebelumnya. Menteri Kesehatan Endang Rayahu Sedyanlngsih mengatakan, pembangunan kesehatan di pedesaan masih terus berlangsung, sementara masalah kesehatan di perkotaan juga menjadi perhatian penting. "Kita tidak bisa berdiam diri, masalah kesehatan di perkotaan juga semakin kompleks. Tetapi masyarakat desa Juga harus disiapkan agar bisa mandiri dalam menjaga kesehatannya dan pemerintah daerah harus dapat mengantisipasi kemajuan yang terjadi di desa dengan menyediakan sarana dan prasarananya." kata Menkes.
Sementara itu. Yayasan Damandiri yang diketuai Prof DR Haryono Suyono, terus bekerja ikut menyiapkan masyarakat desa agar siap menerima program-program pemerintah dan mcmperdayakan masyarakat melalui pos-pos pemberdayaan keluarga (Pos-daya).(dew)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar